Diari Penggerak Literasi: Aktifkan Skill Generalis - Penggerak Literasi

Diari Penggerak Literasi: Aktifkan Skill Generalis

Manakah yang terbaik, generalis atau spesialis? Pertanyaan yang selalu ada di benak saya. Bagaimana jika seseorang ahli dalam satu bidang namun zonk di bidang lain, ataukan menjadi seorang yang menyelami banyak skill dan keilmuan tapi cetek  dan tidak terlalu dalam? Disinilah cerita itu dimulai.

Dulu, sewaktu lulus SMA, saya ingin kuliah di bidang sastra, entah itu sastra Indonesia, sastra bahasa Inggris, atau sastra bahasa Arab. Karena saya bercita-cita menjadi seorang penulis. Namun, harapan orangtua memaksa saya untuk menjadi guru. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil jurusan pendidikan bahasa Arab. Saat kuliah, saya menyadari bahwa saya punya banyak minat. Saya suka belajar bilingual, saya suka berdiskusi, membuka wawasan dengan berbagai jenis keilmuan dan isu-isu terkini, saya juga suka menulis ilmiah dan sastra, saya sudah menerbitkan banyak karya, tidak hanya itu, saya juga banyak berkompetisi di semua bidang itu, dan disitulah saya percaya, It’s ok to be generalist.

Generalis yang membawa saya untuk menyelami kembali dunia literasi. Lulus S2, menjadi dosen bahasa Arab dan tutor bahasa Inggris di sebuah lembaga di kota Malang tidak membuat saya puas. Saya masih haus ilmu dan ingin memperbanyak relasi untuk meningkatkan kompetensi yang dimiliki.

Selain menjadi dosen, saya dipercaya lembaga pesantren untuk memimpin program “Reader Club”. Program ini berada dalam naungan Komunitas Pecinta Ilmu (KOPI) agar santri di pesantren tetap utuh memahami agama dan menyelami ilmu lebih luas dengan banyak membaca karya para ilmuan dan tokoh-tokoh, berbagi ilmu dan berdiskusi.

Saya bersyukur bertemu dengan “Nyalanesia” Program yang dikenalkan sangat inovatif untuk mendongkrak paradigma literasi yang minim di Indonesia. Saya mencoba untuk mendaftarkan diri  sebagai perwakilan ketua komunitas. Dari awal pendaftaran sampai menjadi Kandidat SPL Nasional, saya sempat maju mundur karena ragu akan berhasil. Namun, keyakinan yang saya tanamkan adalah bukan bagaimana saya lolos menjadi SPL Nasional, tapi bagaimana saya mampu mengaktifkan kemampuan saya untuk kembali berbicara di depan publik, bernegosiasi, cakap berkomunikasi dan tentu saja menambah relasi dan sambung silaturrahmi.

Pengalaman luar biasa saya dapatkan  dari program GSMB Nasional ini. Jujur, saya sangat lelah tapi bahagia. Walaupun perjuangan saya tidak perlu menyebrang antar pulau seperti peserta KSPL Nasional lainnya di pelosok, tapi jujur saya sangat letih juga, mengingat daerah Malang Raya amatlah luas, saya pontang-panting ujung ke ujung di tengah dunia perkotaan yang macet parah. Program Sosialisasi ini sungguh menantang saya untuk door to door, office to office bertemu dengan petinggi-petinggi sekolah, berdiplomasi dan bernegosiasi dengan orang baru.

Awal masa penerjunan, saya sempat sakit, sehingga seminggu awal saya off. Saya berinisiatif untuk memilih sekolah-sekolah elit.  Sependek yang saya tahu, sekolah akan susah menerima program ini karena tidak semua sekolah mendukung gerakan literasi. Pun untuk meyakinkan kepala sekolah, secara logika akan lebih mudah jika memiliki akses orang dalam. Saya memilih sekolah elit dengan pertimbangan bahwa mereka akan lebih mudah menerima program yang berbayar ini. Karena bagi sekolah umum biasa, jangankan berbayar, ibarat gratis saja masih susah menggerakkan literasi, kecuali ada paksaan dari dinas kementrian.

Saya juga berusaha mendatangi dinas perpustakaan, dinas pendidikan dan lainnya dalam rangka menjalin kerjasama, namun ada beberapa yang masih tertutup dan belum mengenal program GSMB dari Nyalanesia ini. Tantangan lain yang saya hadapi, walaupun sudah berkoordinasi dengan kawan sejawat yang bekerja di instansi elit tersebut tetap mengalami kenadala, dan tentu saja intinya satu, atasan tidak terlalu tertarik dengan literasi, apalagi berbayar, walaupun beberapa instansi yang saya datangi, bahkan gurunya sangat semangat untuk berpartisipasi.

Akhirnya pada kesempatan ini sayaucapkan terimakasih untuk Nyalanesia karena program ini sungguh men-challenge diri saya sebagai individu yang utuh, tetap teguh dengan mimpi dan kembangkan potensi generalis untuk menjadi generasi yang bermanfaat.

Fithrotul Jannah- KSPL Malang, Asisten Dosen Bahasa Arab

Artikel Terkait