Mutiara di Tanah Berlumpur - Penggerak Literasi

Mutiara di Tanah Berlumpur

Suara azan telah berkumandang dan menggema di setiap sudut masjid dan mushola yang ada dipelataran desa Sungai Keranji, gayung bersambut dengan kokok ayam dan seruan burung yang bahagia menyambut pagi dengan bias mentari yang lelehkan embun yang bergelantungan di dedaunan pagi ini. Seakan alam tahu dan menyambut baik dengan tugas baru yang saya emban dari PT. Nyalanesia dalam Sosialisator Program Literasi Nasional (SPL Nasional) dengan sub program Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB) tingkat Nasional yang mana dari kegiatan ini untuk menyalakan kemerdekaan menulis bagi seluruh isi sekolah, mulai dari  kepala sekolah, guru dan murid berkesempatan membuat karya dan dibukukan, dilombakan dan diikutsertakan dalam ajang tingkat Nasional.

Saya sangat terpicu untuk mencoba kegiatan ini karena latar belakang saya tidak jauh dari dunia literasi. Kegiatan keseharian saya adalah sebagai penggerak dan pegiat literasi di Kabupaten Kuantansingingi, Provinsi Riau, tepatnya di Desa Sungai Keranji. Saya juga memiliki sebuah Yayasan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang bernama INSANI dan sudah berjalan hampir 4 tahun. Di TBM Insani saya mengadakan les gratis pada semua tingkatan sekolah dari PAUD, TK, SD, SMP dan SMA juga masyarakat umum yang mau menjadi pemustaka dalam penegembangan inklusi sosial (penerapan bacaan dalam meningkatan ekonomi keluarga).

Subuh sudah beranjak, fajar telah menyinsing, peraduan sudah mulai hangat akan cahaya matahari, saya yang telah menyiapkan diri untuk memulai tugas baru dalam mensosialisasikan program GSMB ini kepada seluruh sekolah yang ada di Kabupaten saya terutama di Kecamatan Singingi. Langkah awalnya adalah meminta kerjasama kolaborasi dari berbagai pihak terutama di bidang pendidikan dan perpustakaan yang bernaung. Dengan ucapan basmalah, saya melangkahkan kaki untuk menghadap sebuah kantor Koordinator Wilayah Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kecamatan Singingi.

Di sana saya disambut baik oleh Bapak Alpadri, beliau “sangat menyetujui adanya program ini untuk menunjang kegiatan literasi di sekolah namun sayang sekali saat masa pandemi ini kami tidak bisa berbuat banyak untuk program ini karena semua sekolah di Kabupaten Kuantansingingi ini  dilarang untuk memungut biaya dalam bentuk apa pun. Bahkan untuk seragam sekolah saja kami meniadakan pembelian baju baru. “Saya akan membuatkan surat rekomendasi untuk ibu agar bisa masuk ke sekolah untuk mensosialisasikan program ini,” sahut beliau kala itu. Saya cukup senang, paling tidak program yang saya bawa adalah sebuah pencerahan bagi sekolah dalam meningkatan literasi sekolah. Meski dalam keadaan yang memperhatinkan menurut pengamatan kacamata saya, tapi bahagia tetap terpancar di hati saya karena saya yang bukan seorang guru, yang tidak mengerti perihal banyak masalah di dinas pendidikan, dengan meninggalkan surat undangan dan SK dan berkas-berkas yang saya anggap perlu. Setelah itu saya mohon izin dengan membawa surat rekomendasi dari beliau.

Tugas awal saya anggap selesai pada hari pertama ini, meski tetap ada rasa yang tidak bisa saya pungkiri menyelinap dalam hati saya, yaitu kecewa. Mengapa kecewa? Entahlah. Suami saya menguatkan,

“kalau dalam perjuangan itu harus berlumpur dulu baru akan menemukan berlian.”

Saya menjadi tetap semangat karena suami saya tahu saya bisa menjalankan amanah ini, optimis adalah sebuah kata yang harus dikuatkan meski kita dalam rapuhnya hati.

Saya yang diatar suami segera beranjak dari kantor Korwil Disdikpora Singingi. Saya lihat jam di tangan masih menunjukkan pukul 09.00 wib, saya masih ada waktu 1 jam lagi untuk masuk sekolah yang dekat dari rumah yaitu SD 018 Negeri Sungai Keranji, saya bertemu dengan kepala sekolah dan guru-guru kelas lainnya, sambutan yang hangat saya dapatkan kembali dan kepala sekolah meminta saya untuk langsung berhadapan dengan anak-anak sekolah, karena saya datang pada masa ujian semester dan akhirnya saya memutuskan akhir pekan akan datang lagi ke sekolah itu.

Hari kedua, tujuan saya SDN 014 Sungai Keranji, kepala sekolahnya juga menyambut hangat saya tapi setelah saya menjelaskan tentang program GSMB ini mereka terkendala biaya untuk penerbitan bukunya, lanjut hari ke 3 di SDN 016 Sumber Datar, saya menemukan kembali hal yang sama meski sekolah ini mau mendaftarkan sekolahnya untuk ikut program ini, namun akhirnya tidak mendapatkan jalan keluarnya untuk pembiayaannya buku, dana BOS yang hampir finish tidak bisa diganggu gugat karena pembelanjaannya sudah hampir 90 persen dan tidak cukup untuk pembiyaan, sedangkan dana sekolah sudah hampir 2 tahun ditiadakan karena surat keputusan dari Dapodik, saya tetap semangat dan optimis untuk melakukannya kembali, jangan menyerah dan jangan kalah hanya tidak ada jalan keluar meski pintu-pintu terbuka, kubangan itu tidak dangkal, semakin dikeruk akan semakin banyak lumpur yang berhamburan dan semakin dalam, ini bukan tentang sebuah kegagalan jika terus optimis untuk mendapatkan berlian, ini baru awal bukan ujung yang tidak ada ranting yang kuat untuk berpeganggan, jangan rapuh hanya karena tidak membawa sekolah dalam program ini, optimis, optimis dan optimis.

Entah ini sudah pagi yang ke berapa saya bersiap-siap untuk berperang dengan rasa, dari sekolah ke sekolah yang beberapa hari lalu masih nihil hasilnya namun tidak mengapa, saya hanya mensosialisasikan, memperkenalkan dan memberikan pandangan dalam menunjang kegiatan literasi sekolah. Banyak hal yang akan didapatkan oleh sekolah jika mengikuti program ini, tapi memang sebagian sekolah di Kuantansingingi ini gerakan literasinya tidak ada dan tidak berjalan. Perpustakaan hanya sebagai simbol di sekolah dan itu diakui oleh beberapa sekolah yang saya datangi.

Dalam penerapan, butuh sebuah gambaran yang kuat,  tidak adanya jiwa literasi pada guru membuat sekolah hanya tempat belajar formal dengan mata pelajaran yang disediakan, sedangkan literasi itu adalah pelajaran di luar KBM. Bukan menutup mata, memang inilah yang terjadi meski saat ini  harus adanya literasi sekolah yang kuat, namun pembekalan literasinya yang belum kuat makanya program ini hanya dianggap sebagai program yang menunjang sebuah kegiatan tertentu bukan dilihat dari pandangan luas karena memang tidak adanya kemampuan  mendalam. Waktu terus berjalan tidak terasa hanya tinggal beberapa hari saja menuju finish waktu yang ditentukan oleh Nyalanesia kepada kami sebagai KSPL Nasional.

Saat ini saya berada di sebuah pondok pesantren yang bernama As-Assalam yang mempunyai tingkatan sekolahnya dari MTs dan MA. Sebelumnya saya sudah menghubungi kepala sekolah dari dua tingkatan tersebut dan beliau saat ingin mau ikut dalam program ini. Saya sangat senang ada sekolah yang belum bertemu saya sudah memutuskan untuk ikut. Saya hanya menjelaskan melalui chat pribadi waktu itu dan sekarang saya berkunjung ke sekolah tersebut untuk menemui perwakilan sekolah karena kepala sekolahnya sedang berada di luar kota. Saya disambut sangat ramah dan penuh kekelurgaan. Saya disuguhkan berbagai cemilan dan minuman. Duh, saya jadi tidak enak hati karena kedatangan saya menjadi merepotkan pihak sekolah, namun dengan senyuman yang mengambang di raut wajahnya seakan memberikan ketenangan tersendiri kepada saya.

Apa karena saya masuk di kawasan yang sangat islami? Mungkin saja, tetapi ini sangat mengesankan.

Setelah berbincang panjang lebar tentang kegiatan yang saya bawa dan mereka berharap kalau saya bisa  mendampingi sekolah mereka nanti untuk pembuatan karya tulisnya karena saya sempat bercerita tentang saya yang seorang penulis tetapi belum punya buku tunggal hehhehe… Meski saya belum tentu lolos ke SPL Nasional, tapi saya sudah menjanjikan kalau saya akan mendampingi sampai buku diterbitkan dan berada di sekolah mereka. Dari kedua sekolah tersebut mereka mengirimkan untuk MTs 100 siswa, satu guru dan kepala sekolah. Sedangan tingkatan MA hanya memiliki murid 30 orang, siswa yang lulus sudah tidak masuk sekolah lagi, namun sekolahnya mengenapkan karya siswanya menjadi 50 judul karya, satu karya guru dan karya kepala sekolah. Saat itu yang terlintas di kepala saya adalah bagaimana cara agar karya sekolah ini bisa bagus dan tidak hanya sekedar ikut tanpa pengawalan seleksi karya yang bagus, itu bisa dikoordinasikan dengan guru yang terlibat nanti ujar dalam hati, dengan perasaan yang sangat bahagia saya pamit dengan harapan yang kuat karena bakal ada perwakilan sekolah yang bisa saya banggakan. Saya pamit dengan harapan yang sangat luas lagi.

Ketika jam masih memberikan waktu dalam perputarannya maka saya masih punya harapan lebih lagi dari yang bisa saya lakukan untuk saat itu. Saya lanjut ke pompes Ma Arif yang tidak jauh dari desa saya tinggal, saya masih disambut dengan baik tapi perbincangan kami masih semacam perkenalan GSMB, hal serupa juga saya dapatkan di beberapa sekolah lainnya seperti SMPN 2 LTD, SMAN 1 LDT, SMPN 3 LTD, SMAN 1 Singingi, SMAN 2 Singingi dan terakhir saya berada di SMPN 4 Singingi dan Alhamdulillah sekolah ini kembali memberikan saya harapan kembali, dengan kepala sekolahnya yang luwes, cekatan dan ambisi untuk kebaikan sekolahnya, dia tidak berpikir dua kali untuk mengikutsertakan sekolahnya dan langsung mendaftarkan hari itu juga dengan 100 siswa. Semangat saya terus terpompa seperti ban yang kurang angin yang kini terisi kembali, sungguh di luar dugaan dan prediksi saya yang awal kedatangan saya disambut begitu dingin dan dicuekin namun setelah mendengarkan saya menjelaskan panjang lebar tentang program ini, beliau sangat terkesan luar biasa.

Oh ya,.. ada cerita unik yang saya alami dalam mengemban tugas ini, penolakan itu biasa, kurang berkesan itu juga biasa namun yang membuat saya berkesan itu adalah saat saya mencari sekolah yang dituju malah saya tersesat jauh ke kecamatan yang berbeda, tidak tahu saya berada di mana, tidak ada rumah warga dan tempat bertanya, sungguh membuat saya takut waktu itu dan memang ya… saya orang yang kurang suka jalan-jalan hingga saya tidak tahu daerah sekeliling. Daerah saya ini adalah daerah pemekaran alias daerah transmigrasi pada zaman pak Harto dulu, hutan yang disulap menjadi pemukiman warga yang didatangan dari pulau Jawa. Saat berkunjung tersesat dan setelah pulangnya juga tersesat, untunglah ada sepasang pasutri yang diam-diam saya ikuti dari belakang, dengan rasa takut yang luar biasa dan waktu sudah mulai gelap, doa dalam hati tak henti saya lafaskan sambil menggas motor melalui jalan setapak yang berlumpur dalam, sekian jam berjalan namun tiada ujung yang saya lihat, hanya rimbunnya perkebunan sawit yang mengapit jalanan itu, tangis mulai pecah, bulir bening itu jatuh tanpa ada yang menyuruh, jatuh dan terus jatuh namun saya selalu berfikir positif dan optimis kalau saya bisa keluar dari kebun sawit ini dan bertemu jalan utama tapi jujur saya tidak tahu tembusannya jalan itu di mana, pasangan pasutri itu terus saya ikuti, dengan doa, dengan tugas yang saya emban, saya kuat dan tak boleh menyerah dan berkat kesabaran akhirnya saya sampai juga dijalur desa tetangga yang masih jauh dari desa saya, namun saya telah di jalan utama, dengan hati dan perasaan yang campur aduk saya terus menjalankan motor itu dengan was-was dan ingin cepat sampai di rumah. Mungkin ada 4 jam saya berkeliling kebun sawit sampai menemukan jalur utama, dan sekitar setengah jam perjalanan pulang baru sampai di rumah. Kaki yang gemetaran, tungkai yang lemas tidak terkatakan lagi.

Waktu uji penerjunan KSPL masih ada 2 hari lagi, saya sudah membuat janji dengan Bapak Plt Disdikora dan Bapak Dipersip Teluk Kuantan untuk meminta surat rekomendasi, dalam 2 hari itu saya mendapatkan suratnya, rasa syukur yang tak terhingga saya selalu panjatkan kepada Allah SWT atas lindunganNya kepada saya dalam menjalankan tugas yang diamanahkan kepada saya oleh Nyalanesia, Baraqallah…. Nikmatnya sebuah proses yang saya lalui adalah tantangan tiada akhir dalam diri saya.

Artikel Terkait