Penggerak Literasi Bergerilya dalam Sunyi

Tahun 2021 adalah tahun kedua saya menjadi Sosialisator Program Literasi Nasional Nyalanesia. Meski sudah pernah berpengalaman menjadi SPL Nasional, tetapi tetap saja ada hal-hal berbeda yang didapat. Lebih banyak yang menyakitkan dari pada yang menyenangkan. Hampir saja saya menyerah, kalah. Namun, masih ada secercah asa yang membuncah. Terlebih saat menyaksikan penuturan Andy F. Noya, wartawan sekaligus presenter talkshow Kick Andy. Siapa yang menyana, di balik sosoknya yang pandai menggali informasi dari para narasumbernya, tersembunyi berbagai kisah kelam yang akhirnya membuat sosok Andy Noya menjadi pribadi kuat, bersahaja, dan dermawan. Ia pantang menyerah. Bermodal semangat dari Sang guru sekaligus motivatornya, ia bertekad untuk terus maju, mengubah hidupnya. Nyatanya, ia berhasil. Tidak hanya dirinya, ia menjadi cahaya bagi keluarga, sahabat, dan fans setianya. Ia bisa memotivasi penontonnya.

Tidak hanya itu saja. Motivasi lainnya saya dapatkan dari Kang Bukik. Pegiat Pendidikan yang terkenal dengan slogan merdeka belajarnya. Ia adalah seorang guru dan pendidik yang berani keluar dari zona nyaman. Ia mengajari saya untuk terus berani melangkah meski tertatih untuk terus menjadi penyala literasi di Nusantara. Menurutnya, kita belum berhasil dengan nilai apa yang kita coba sebarkan sebelum dianggap ‘gila.’ Dengan anggapan masyarakat itulah, pada dasarnya masyarakat sudah mulai terusik dengan apa yang kita kampanyekan. Mereka peduli tetapi masih enggan mengakui. Di sinilah kita dituntut untuk terus berani menyuarakan literasi.

Apa yang saya alami tentu belum seberapa jika dibandingkan dengan kedua tokoh tersebut. Tetapi, saya sudah di titik ini. Pernah hampir menyerah. Dulu, saat akan bergabung dengan Nyalanesia, pernah ‘nglokro‘ dikarenakan banyak kesan “negatif” tentang program Nyalanesia menurut perspektif beberapa orang.

Sejak awal, banyak yang mengatakan Nyalanesia hanya cari “uang” saja. Banyak sahabat menyarankan saya mundur. Saat terjun di lapangan memang banyak sekolah yang kemudian didatangi LSM yang mengatakan sekolah memungut sejumlah uang. Meskipun sekolah sudah menjelaskan, biaya tersebut akan dikembalikan ke siswa berupa fasilitas, termasuk berwujud buku yang memuat karyanya. Tetapi banyak LSM yang mental dengan itu. Selain itu, banyak juga pegiat literasi yang memang komplain ‘masa kegiatan literasi untuk siswa berbayar?’ kata mereka.

Hal terberat yang saya alami bukanlah dari luar, justru dari sekolah tempat saya bekerja. Saya memang hanya guru biasa yang lagi senang-senangnya mengajak anak baca-tulis. Lha wong kenyataannya masih ada beberapa anak yang tidak bisa baca kok. Kalian pasti tanya, masa ada zaman sekarang? Ada. Bahkan saya menjumpai tiga siswa. Untuk itulah saya membujuk kepala sekolah untuk mendukung saya mengikutsertakan siswa menulis antologi bersama. Benar saja. Kepala sekolah mendukung. Di sisi lain ternyata hal ini memberikan kecemburuan sosial saat kegiatan lainnya tidak mendapat dukungan dari kepala sekolah.

Ada satu momen yang terus saya ingat. Ketika banyak siswa yang bermasalah, tetapi ada pihak tertentu mengatakan ‘aktif literasi sampai mana-mana, tapi nggak ada akhlak’. Kalimat ini diucapkan di muka umum setelah adanya pembagian buku hasil karya siswa.

Kalau ada siswa bermasalah, ya jangan terus diambil kesimpulan dengan mengatakan hal buruk yang dikaitkan literasi. Justru, dengan kegiatan yang melibatkan siswa seperti ini akan menekan tingkat kenakalan siswa. Ini premis awal saya.

Jadi, dengan membiasakan kegiatan baca tulis, siswa akan terbiasa mengemukakan ide atau perasaannya dengan cara yang baik. Dengan menyibukkan diri, mereka membaca atau menulis, siswa akan melupakan keinginan ngobrol, keluar kelas, atau bahkan melakukan pelanggaran.

Kebiasaan membaca dan menulis yang sudah terlaksana dengan baik akan menjadi budaya. Ini tentunya akan menyebabkan siswa lebih bijak dalam bersikap dan bertutur kata. Mereka tentu akan bisa membedakan mana yang baik dan sebaliknya.

Sayangnya, kegiatan literasi yang kini sedang menjadi tren sering dibarengi miskonsepsi. Itu yang harus diluruskan.

Siapa yang harus bertindak? Semua pihak. Orang tua, guru, kepala sekolah dan jajarannya, masyarakat serta pemerintah punya tanggung jawab dalam hal ini.

Saya ingin menekankan hal ini lebih pada guru dan sekolah. Guru tentu pihak yang berada di garda depan dalam bidang literasi. Kegiatan pembelajaran di kelas tak jauh dari literasi. Namun sayangnya, keterbatasan pengetahuan kita menyebabkan hanya melihat literasi sebagai kegiatan yang membuang waktu dan tidak efektif.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang literatif, guru dan sekolah bisa memulai dari diri sendiri. Guru perlu mencontohkan sikap gemar baca dan tulis agar siswa meniru. Sekolah juga perlu mendukung dengan langkah-langkah nyata, seperti memberi dukungan pada guru dan siswa yang aktif menggalakkan literasi (minimal baca tulis), mengaktifkan perpustakaan sekolah sebagai pusat kegiatan menggali pengetahuan, adanya pengadaan bahan bacaan yang berkualitas, mengapresiasi pegiat literasi serta tidak latah langsung menilai literasi gagal membentuk akhlak, tanpa turun langsung. Sekolah perlu menciptakan atmosfer yang menyenangkan baik bagi guru, tenaga kependidikan, maupun para siswa.

Dan terakhir, untuk para guru dan penggerak literasi yang sedang menyalakan literasi, teruslah bergerak meskipun banyak aral melintang. Teruslah bergerilya meski dalam sunyi untuk membentuk peradaban yang bernurani. Sehingga tak akan ada lagi yang salah mengartikan literasi.

Salam Penyala,

Isnani Rakhmawati

Artikel Terkait