SPL, Jalan Menggapai "The Ultimate Dream" - Penggerak Literasi

SPL, Jalan Menggapai “The Ultimate Dream”

Saya hampir tidak percaya dari ribuan pendaftar yang tertarik menjadi Sosialisator Penggerak Literasi (SPL). Saya  menjadi salah satu terpilih perwakilan dari Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan. Sebuah perjuangan yang penuh tatangan, di mana pada saat saya mengikuti tes kompetensi saya sedang dalam masa “KRITIS” karena Covid-19 dan harus dirawat di rumah sakit Ratu Zaleha Martapura. Sedangkan pada saat seleksi penerjunan pada tanggal 7 Juni 20021 saya mendapat amanah sebagai bendahara Penilaian Akhir Semester (PAT). Proses pembagian tugas yang sangat menantang, antara menuntaskan pekerjaan bendahara yang harus membantu penyiapkan konsumsi panitia, serta harus mengunjungi beberapa sekolah untuk melaksaakan tugas sosialisasi. Saya sangat diuntungkan dalam kegiatan ini, karena sudah sering berjejaring dan bekerja sama dengan berbagai sekolah juga sudah mengenal dengan begitu dekat para kepala sekolah di lingkup Kota Banjarbaru dan kabupaten lain di sekitarnya.

Mendengarkan kisah Bang Andy mengingatkan saya atas semua kejadian yang selama ini saya alami. Kalimat beliau tentang bagaima seharusnya kita menggunakan waktu, tenaga, pikiran ,ilmu dan harta kita untuk sebanyak banyaknya bermanfaat untuk kehidupan saudara saudara kita betul betul saya amini. Tanpa memandang ras, suku , agama serta status sosialnya. Banyak sahabat  lebih mengenal saya sebagai pegiat disabilitas dan pendidikan inklusif di Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan. Saya akan terusik manakala mengetauhi saudara saudara kita yang mengalami hambatan tidak mendapatkan hak hak pendidikannya di sekolah reguler. Sekolah menolaknya. Berbagai alasan menyertainya.  Sebagai ketua Forum Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif merasa perlu untuk terjun langsung ke lapangan untuk mengurai permasalahan tersebut. Kalau alasan menolaknya karena ketiadaan guru khusus saya coba bantu menyediakan Guru Pembimbing Khusus. Dalam forum yang saya ketuai, kita adakan short course untuk membekali para relawan sebelum terjun ke lapangan. Jumlahnya tudak banyak,  karena tidak semua sarjana pendidikan mempunyai panggilan hati membantu yg mengalami hambatan di sekolah reguler. Alhamdulillah, sampai saat ini masih ada beberapa relawan pendidikan inklusif yang masih dengan ketulusan hati bersama sama anak spesial mendampingi. Kita masih sering berkomunikasi, sering kali saya minta data kepada mereka dan selalu saya mm orivasi bahwa Tuhan Yang Maha Kaya yang akan membalas keihklasan mereka.

Lain halnya dengan paparan mas Bukik Setiawan. Sebuah kalimat yang paling membetot perhatian saya adalah ungkapan beliau tentang “Kesulitan Siswa adalah Ladang Ilmu buat guru” Saya memahaminya dalam arti luas. Kesulitan siswa di masa pandemi sangatlah kompleks. Bukan hanya kesulitan mengerjakan tugas guru dalam pembelajaran daring dikarenakan mereka tidak memahami cara mengerjakannya. Dan saya sebagai seorang pendidik harus menjadi bagian dari mereka, baik sebagai guru, orang tua bahkan menjadi sahabat sejati yang selalu suka rela membantu mengurai semua permasalahan siswa untuk menemukan solusi.

Pernah ada  suatu obrolan bapak ibu guru di ruang piket. Begitu banyak guru yang mengeluhkan tingkat partisipasi siswa yang tidak pernah mencapai 100 %. Selalu saja ada yang tidak mengumpul tugas dan jawaban. Dan kesimpulan yang diambil oleh hampir semua guru siswa tersebut adalah siswa yang bodoh,  pemalas, tidak disiplin dan tidak bersungguh-sungguh dalam belajar.

Saya tidak memandang demikian. Pembelajaran daring yang tidak diikuti keseluruhan siswa tentulah ada yang melatarbelakanginya. Karena hal tersebut juga terjadi di mata pelajaran Bahasa Inggris yang saya ampu. Dan munculah suatu gagasan degan mencoba metode pembelajaran daring yang tidak mainstream. Dengan bekerja kelompok. Menggunakan aplikasi podcast utuk mengumpulkan tugas kelompok.  Walaupun agak ribet diawal, akhirya prosentasi pengumpulan tugas kelompok tersebut dapat menjawab permasalahan yang hampir dirasakan oleh semua guru. Saya sudah membagikan pengalaman saya tersebut degan bapak ibu guru yang lain. Apakah mau di modifikasi dan ditiru saya serahkan semuanya kepada para mengajar untuk mulai memikirkan bagaimaa mengatasi KESULITAN siswa dengan berinovasi dengan metode baru yang lebih menyenangkan dan menantang.

Salam literasi

Artikel Terkait