Jiwa Fasilitator yang Bergetar - Penggerak Literasi

Jiwa Fasilitator yang Bergetar

Penggerak Literasi? Ketika memutuskan membawa buku keliling pada tahun 2018, saya tidak pernah berfikir akan menyandang gelar penggerak literasi. Gerakan Sigupai Mambaco tahun 2018 ini, sudah mengatarkan saya bertemu dengan program Gerakan sekolah Menulis buku dan ikut seleksi SPL Nasional.

Begitu pengumuman, dan lulus dari 1000 besar tahap administrasi. Kemudian ikut uji kompetensi tentang program Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB), untuk memilih 500 besar. Lalu diseleksi lagi hingga uji penerjunan menjadi kandidat 88 orang SPL Nasional.

Saya yang hampir saja menyerah karena tanggung jawab yang besar ketika masa penerjunan, harus bolak-balik ke dinas pendidikan dan Kemenag hingga saya sakit, ternyata saya lulus. Saya senang sekali.

Dua sekolah yang mendaftar, setelah sebelumnya mendengar pernyataan Bapak Kepala bagian pendidikan dasar, ketika menjelaskan program hingga disetujui.

“Di Abdya ini susah orang mau ikut kegiatan literasi apalagi berbayar. Tapi tidak apa-apa, kamu harus tetap semangat. Saya membuat surat rekomendasi dan nanti kamu sosialisasi ke sekolah-sekolah yang biasanya mau dengan program inovasi.”

Rintangan yang merintang ketika masa penerjunan, telah membuat saya begitu senang ketika terpilih. Memang benar katanya, jangan menyerah ketika kamu belum ingin menyerah. Saya sungguh tidak menyangka akhirnya saya terpilih menjadi 88 Orang SPL Nasional 2021. Memang menyerah bukan pilihan, jika saya memilih menyerah saat itu, tentu saya sudah tamat dan semangat tersebut hanya menjadi sebuah kenangan yang akan mengganggu saya.

Pesan tentang pelantikan masuk ke Handphone saya, saat itu saya senang bukan kepalang ketika tau bahwa pematerinya adalah Andy Noya dan Bukik Setiawan. Kedua tokoh ini adalah favorite saya.

Saat mendengar cerita pak Andy yang mencari gurunya dan menyantuni hingga akhir. Saya membayangkan diri saya di sana. Guru yang menginspirasi saya salah satunya adalah guru sejarah ketika saya MTsN, namun beliau wafat karena kanker sebelum saya bertemu dengannya kembali.

Cerita dari pak Andy menginspirasi dan menjadi kekuatan bagi saya meskipun saya bukan guru. Saat memilih jadi SPL Nasional tentu tidak sedikit rintangannya apalagi saat ini keadaan sungguh tidak mudah dibawah gempuran teknologi yang salah digunakan.

SPL adalah salah satu cara menyebarkan benih baik ke sekolah melalui buku, menemukan penulis luar biasa, ikut bekerja dalam sunyi untuk literasi Indonesia. Hal inilah yang menjadi semangat luar biasa terinspirasi dari pak Andy.

Materi pak Bukik, tentang tantangan menjadi relawan yang tidak mudah, menjadi orang baik yang tidak mudah, jadi tidak perlu menyerah, karena satu-satunya tempat beristirahat hanyalah nanti. Sekarang tugasnya adalah berlelah dan tidak menyerah pada tantangan.

Kedua pemateri itu sangat menginspirasi untuk terus bergerak selama jadi SPL Nasional dan setelah jadi SPL Nasional nantinya. Tidak apa bukan guru tapi jadi bagian dari yang mengajak guru dan semua yang disekolah untuk menciptakan keabadian yang ditulis sebagai buku bisa saja lakukan dan saya harus semangat, tidak menyerah.

Artikel Terkait