MENSYUKURI NIKMAT TERINDAH DI TAHUN 2022 (Penjelajahan SPL Nasional di Kota Santri) - Penggerak Literasi

MENSYUKURI NIKMAT TERINDAH DI TAHUN 2022 (Penjelajahan SPL Nasional di Kota Santri)

Pertengahan tahun 2022 merupakan awal kegiatan belajar mengajar memasuki era pascapandemi covid-19.  Sekolah-sekolah mulai berbenah untuk memulai pembelajaran tatap muka walau masih ada beberapa keterbatasan. Namun keterbatasan itu tidaklah lama, hanya kurang dari 2 bulan sejak awal tahun pelajaran, kegiatan pendidikan mulai menuju ke tingkat normal. Lebih tepat istilah “New Normal”.  Beberapa sekolah ada yang memulai proses Pendidikan dengan kurikulum baru yakni Kurikulum Merdeka. Tidak sedikit sekolah yang melaksanakan Kurikulum Merdeka melalui jalur mandiri. Beberapa sekolah melaksanakan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) untuk mengawali pembelajaran di masa pascapandemi covid-19. Tahun Pelajaran 2022/2023 bagi masyarakat Indonesia khususnya merupakan Tahun Pelajaran yang sangat dinanti-nanti. Hal ini akibat kejenuhan dengan sistem pembelajaran jarak jauh yang pada pelaksanaannya ditemukan beberapa kendala.  Para civitas akademik sangat semangat untuk mengawali tahun pelajaran dengan  tatap muka. Begitupun dengan diri saya, saya sangat semangat dan penuh harapan untuk mengajar lagi dengan sistem tatap muka, namun lebih tepatnya ingin cepat-cepat mempraktikkan “Blended Learning”. Blended Learning adalah pada dasarnya merupakan gabungan keunggulan pembelajaran yang dilakukan secara tatap-muka dan secara virtual. Pembahasan lebih detail tentang “Blended Learning” akan saya tuangkan pada kesempatan tulisan yang lain.

Dampak dari pandemi covid-19 tidak bisa terelakan. Salah satu dampak negatifnya adalah menurunnya akhlak. Secara pengetahuan memang ada beberapa peningkatan, namun dari segi sikap baik sosial maupun spiritual terjadi penurunan. Ini menjadi tugas berat bagi orang tua dan para pendidik. Pada kesempatan tulisan ini, saya tidak membicarakan terlalu banyak tentang dampak dari pandemi covid-19. Pandemi Covid-19 yang dinilai membawa begitu banyak dampak negatif, ternyata juga membawa dampak positif bagi dunia pendidikan. Dampak positif ini dapat memotivasi untuk melewati masa-masa sulit agar tetap fokus meraih tujuan pendidikan Indonesia yang lebih maju. Salah satu dampak positif pandemi covid-19 adalah semakin marak dan meningkatnya Literasi.

Mengawali tulisan ini, saya ingin menyampaikan informasi tentang literasi. Literasi adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Dalam perkembangannya, definisi literasi selalu berevolusi sesuai dengan tantangan zaman. Berikut pengertian literasi dari beberapa tokoh:

“Literasi adalah kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi membaca, berbicara, menyimak dan menulis” dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya. Jika didefinisikan secara singkat, definisi literasi yaitu kemampuan menulis dan membaca. (Elizabeth Sulzby “1986”). Menurut kamus online Merriam – Webster, Literasi ialah suatu kemampuan atau kualitas melek aksara di dalam diri seseorang dimana di dalamnya terdapat kemampuan membaca, menulis dan juga mengenali serta memahami ide-ide secara visual. Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa Literasi lebih dari sekadar kemampuan baca tulis. Namun lebih dari itu, Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Sedangkan menurut UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), Pengertian literasi ialah seperangkat keterampilan nyata, terutama keterampilan dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks yang mana ketrampilan itu diperoleh serta siapa yang memperolehnya.

Puji syukur Alhamdulillah saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas nikmat-Nya di tahun 2022 ini saya berkesempatan untuk mewarnai dunia literasi nasional. Berbekal semangat dan doa, saya menjadi Sosialisator Program Literasi Nasional (SPL Nasional) setelah melewati beberapa tahap seleksi yang tidak mudah. Tahap demi tahap seleksi saya lalui di tengah kesibukan rutinitas kerja utama menjadi Guru Pendidikan Agama Islam dan bertugas juga sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Akademik di SMP Negeri 6 Tasikmalaya.

Saya akhirnya lulus menjadi perwakilan Kota Tasikmalaya dan bisa bergabung dengan Penggerak Literasi dari Kabupaten/Kota dan Provinsi lain se Indonesia. Kami berkumpul untuk mendapatkan pembekalan serta penguatan sebagai SPL Nasional dan mendapatkan materi pengembangan diri dari pemateri Nasional dalam kegiatan “Teacher Masterclass” sekaligus pelantikan sebagai SPL Nasional tahun 2022.

Setelah mendapatkan penguatan sebagai SPL Nasional Tahun 2022, saya segera melaksanakan pengabdian untuk menggerakan literasi di daerah saya yakni Kota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Kegiatan pengabdian menggerakan literasi di Kota Tasikmalaya saya awali dengan silaturahim dan mohon doa restu dari Bapak H. Nanang, S.Pd., M.Si. (Kepala SMP Negeri 6 Tasikmalaya), Ibu Ir. Hj. Ely Suminar, M.P. (Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya), Bapak Drs. H. Mohammad Ali Abdul Latief, M.Ag. (Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tasikmalaya) dan Bapak Dr. Abur Mustikawanto, M. Ed. (Kepala Kantor Cabang Dinas XII Provinsi Jawa Barat). Alhamdulillah doa dan dukungan dari beliau-beliau menjadi semangat dan menambah energi untuk meningkatkan literasi Kota Tasikmalaya.

Masa pengabdian 3 (tiga) bulan lamanya saya harus memotret dan menggerakkan program literasi ke SD/MI, SMP/Mts, SMA/SMK/MA di wilayah Kota Tasikmalaya yang terbagi menjadi 10 (sepuluh) Kecamatan.

Kota Tasikmalaya memiliki letak Geografis sebelah UTARA berbatasan dengan Kecamatan Cisayong dan Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya, Kecamatan Cihaurbeuti, Kecamatan Sindangkasih dan Kecamatan Cikoneng Kabupaten Ciamis dengan batas fisik Sungai Citanduy. Sebelah SELATAN berbatasan Kecamatan Jatiwaras dan Kecamatan Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya. Sebelah TIMUR Kecamatan Manonjaya dan Gunung Tanjung Kabupaten Tasikmalaya dengan batas fisik saluran irigasi Cikunten II dan Sungai Cileuwimunding. Sebelah BARAT berbatasan dengan Kecamatan Singaparna, Kecamatan Sukarame, dan Kecamatan Sukaraja, Kecamatan Sukaratu, Kecamatan Leuwisari Kabupaten Tasikmalaya dengan batas fisik Sungai Ciwulan.

Tidak setiap hari memang saya harus ke sekolah-sekolah, mengingat ada tugas pokok yang harus saya laksanakan sebagai kewajiban. Saya mendatangi sekolah-sekolah lebih banyak di hari Sabtu, dikarenakan sekolah saya tempat mengajar melaksanakan pembelajaran 5 (lima) hari dari Senin sampai Jum’at. Setiap hari Sabtu mulai pukul 07.00 saya mulai keluar dari rumah menuju sekolah-sekolah, yang saya utamakan di Kecamatan Cihideung terlebih dahulu. Kecamatan Cihideung merupakan kecamatan yang strategis di pusat Kota dan padat penduduk dan banyak seklah-sekolah di sana.

Setiap mendatangi ke sekolah-sekolah saya upayakan agar bisa langsung bertemu Kepala Sekolah, walaupun beberapa sekolah hanya bisa bertemu dengan Guru atau pegawai Tata Usaha saya tetap semangat dan mengobarkan semangat literasi. Intinya kedatangan saya jangan sampai sia-sia, harus ada manfaat dan informasi yang saya dapatkan termasuk sekolah-sekolah yang saya datangi mendapatkan informasi dari saya.  Mendatangi sekolah-sekolah dengan tujuan untuk mensosialisasikan salah satu program Nyalanesia yakni Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional (GSMB Nasional) Tahun 2022.

Nyalanesia adalah perusahaan pengembang program literasi sekolah terpadu yang memfasilitasi siswa dan guru agar dapat menerbitkan buku, mendapatkan pelatihan dan sertifikasi kompetensi. Dengan dukungan teknologi terintegrasi, penyelenggaraan beragam event literasi dan pengembangan komunitas berbasis sharing economy, Nyalanesia hadir dengan nafas socioedupreneur untuk menciptakan ekosistem literasi terbesar di Indonesia. Nyalanesia adalah inisiator dan pengembang program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional sejak tahun 2016, dan telah berhasil membantu ribuan sekolah untuk mengembangkan program Gerakan Literasi Sekolahnya.

Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB) Nasional adalah sebuah program pengembangan literasi sekolah terpadu, yang memfasilitasi seluruh siswa dan guru jenjang SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK untuk berkarya dan menerbitkan buku, mendapatkan pelatihan dan sertifikasi kompetensi, pendampingan pengembangan program literasi, serta kompetisi berliterasi paling bergengsi di tingkat nasional dengan total hadiah ratusan juta rupiah. Program ini telah terselenggara 6 tahun dan telah diikuti ribuan sekolah dari 34 provinsi di Indonesia. Program GSMB Nasional dipersembahkan bagi sekolah-sekolah di seluruh Indonesia guna menjadi solusi sekaligus wahana untuk mengakselerasi kualitas budaya literasi dan mutu pendidikan secara lebih efektif, efisien dan penuh suka cita.

Selama menjadi SPL Nasional, saya memotret kegiatan literasi beberapa sekolah di Kota Tasikmalaya. Secara umum sekolah-sekolah di Kota Tasikmalaya telah melaksanakan program literasi 15 menit membaca di pagi hari sebelum pembelajaran intrakurikuler dimulai. Ada beberapa sekolah yang di dalam kelasnya terdapat “pojok baca” dengan hiasan “pohon geulis” yakni pohon yang memuat lembaran-lembaran daun yang berisikan aktifitas literasi di kelas itu.  Ada juga beberapa sekolah di pagi hari siswa bersama guru membaca buku kecintaanya dan menuliskan apa yang didapat saat membaca tadi pada buku literasi. Kegiatan review pun tak pernah terlewat sebagai pelengkap kegiatan literasi mereka. Mereka membaca, mereka menulis dan mereka menyampaikan/menceritakan apa yang telah dibaca.

Beberapa Kepala Sekolah yang saya temui sangat antusias menceritakan program-program literasi dan pencapaian-pencapaian terbaik dari sekolahnya. Saya mendengarkan dengan seksama dan membuat catatan-catatan kecil. Betapa senang dan bahagia mendengar beberapa sekolah telah membuat terobosan-terobosan di bidang literasi dengan menerbitkan buku karya Guru dan beberapa karya Siswa, termasuk Kepala Sekolah juga menerbitkan buku tunggalnya. Beberapa sekolah juga telah memiliki Unit Perpustakaan yang representative untuk menunjang kegiatan literasi sekolah. Salah satu Sekolah Dasar di Kota Tasikmalaya memiliki Perpustakaan yang cukup luas areanya dan memiliki koleksi yang terbilang lengkap. Saya berdiskusi dengan pengelolanya, dan mendapat informasi bahwa kewalahan melayani antusias para siswa yang datang ke perpustakaan. Mendapatkan info tersebut tergambar bahwa pemanfaatan perpustakaan telah maksimal dan program literasinya berjalan dengan baik.

Alhamdulillah kedatangan saya disambut dengan baik oleh pihak sekolah. Sekolah-sekolah yang saya datangi sangat antusias mendengarkan presentasi yang saya sampaikan. Bahkan beberapa sekolah meminta saya untuk mempresentasikan langsung kepada para siswa bahkan kepada orang tua siswa. Saya memahami betul bahwa program literasi tidak akan berhasil tanpa dukungan orang tua siswa.  Beberapa sekolah yang saya datangi juga memberikan informasi bahwa orang tua siswa yang diwakili oleh komite sekolah sangat mendukung program literasi yang dilaksanakan di sekolah. Dan harus diakui bahwa ada beberapa sekolah yang orang tua siswanya belum memahami betul akan pentingnya program literasi yang dilaksanakan di sekolah.

Perlu disampaikan pula bahwa ada sekolah namun jumlahnya relatif sedikit yang civitas akademiknya belum mengembangkan pelaksanaan program literasi. Beberapa sekolah merasa sudah cukup dengan menyediakan waktu di awal pembelajaran untuk membaca kepada para siswa sebagai program literasi. Sejatinya literasi tidak hanya pada dimensi membaca, setelah membaca siswa perlu dirangsang untuk meningkatkan kemampuan literasinya yakni menulis. Hal tersebut yang saya sampaikan pada sekolah-sekolah yang perlu mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan program literasinya.

Terima kasih saya sampaikan kepada sekolah-sekolah yang mau memberikan informasi tentang program literasi sekolahnya dan mau menerima informasi yang saya sampaikan berkenaan dengan program pengembangan literasi sekolah. Pengembangan literasi sekolah seyogyanya perlu direncanakan dengan baik dan konsisten untuk dilaksanakan demi kemajuan sekolah serta membantu meningkatkan kecerdasan anak bangsa. Alternatif pengembangan program literasi yang saya sampaikan adalah program GSMB Nasional Tahun 2022 dan telah diterima oleh beberapa sekolah di Kota Tasikmalaya.

Kurang lebih 125 sekolah di Kota Tasikmalaya telah saya datangi dan banyak kisah yang saya alami namun tidak bisa sya ceritakan secara detail pada kesempatan ini karena keterbatasan.  Semoga pada kesempatan tulisan berikutnya saya bisa menuliskannya. Setelah pengabdian saya menjelajah Kota Tasikmalaya demi majunya Literasi, penulis berkesimpulan bahwa Kota Tasikmalaya sebagai Kota Santri telah melaksanakan Program Literasi Sekolah dengan baik. Dan mulai banyak sekolah yang telah meningkat Porgram Literasi Sekolahnya pada dimensi menulis. Hal ini perlu mendapatkan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak termasuk pemerintah Kota Tasikmalaya. Saya berharap Kota Tasikmalaya melalui Dinas Pendidikan memprakarsai Program Literasi Daerah Kota Tasikmalaya untuk memotivasi dan demi kemajuan Kota Tasikmalaya pada umumnya.

Saya yakin betul dengan maraknya Program Literasi Sekolah, munculnya beberapa komunitas-komunitas literasi di Kota Tasikmalaya akan sangat membantu mewujudkan Visi Kota Tasikmalaya yakni Kota Tasikmalaya yang Religius, Maju dan Madani akan terwujud.  Pada akhir tulisan ini, saya ingin mengutip pernyataan dari Tokoh Sastrawan Indonesia bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” –Pramoedya Ananta Toer

Biodata:

Penulis adalah seorang pria yang lahir tiga puluh delapan  tahun yang lalu di Kota Cirebon  merupakan anak pertama dari  tiga bersaudara pasangan  Bapak Sonhaji, S.Pd.I dan Ibu  Ekawati Afiatin. Penulis bernama lengkap Asep Kurniawan Kaustar lebih suka menggunakan nama pena “Abzakhan” dalam setiap karya nya dikarenakan memiliki makna dari ketiga nama buah hatinya (Habib, Fazza, Khansa) bersama Ibu Susila istri tercinta Disela-sela kesibukan mengajar Pendidikan Agama Islam dan  Budi Pekerti di SMP Negeri 6 Tasikmalaya penulis selalu  menyempatkan diri untuk belajar dan menulis. Jelajahi akun Instagramnya di @asepkurniawankaustar dan walaupun tulisannya masih seumur jagung, tulisannya dapat dilihat di https://www.kompasiana.com/asepkk Penulis Buku “Kubuka dengan Basmalah“ ini menjadikan kalimat “Man Jadda Wa Jada” menjadi motivasi hidup  untuk berkarya dan senantiasa mengharap ridho Nya.

Ayo membaca dan menulislah saudaraku!

“Man Jadda Wa Jada”, Siapa yang bersungguh-sungguh akan menemui keberhasilan.

Artikel Terkait