Menjadi Guru Penyala - Penggerak Literasi

Menjadi Guru Penyala

Menjadi headline di kepala saya ketika mendengarkan sesi motivasi yang dipaparkan oleh seorang Andy F Noya. Siapa yang tidak mengenal namanya, bahkan dulu saya pernah ingin menjadi tamu pada acara beliau. Tapi apa kemampuanku yang bisa dibanggakan untuk berada sepanggung dengannya? Apa prestasiku yang bisa kuceritakan di atas panggung dengan jutaan penonton di seluruh negeri ini.

Hanya di Nyalanesia saya bisa bertatap muka meski tak saling bersua dengan beliau yang begitu mencntai guru karena mampu menyalakan semangatnya ketika semua orang tidak menghargai jerih payahnya. Sosok Bu Anna merupakan seorang guru yang visioner begitu menurut saya, beliau mampu melihat kemampuan adak didiknya karena di matanya Andy F Noya mempunyai kemampuan istimewa yang bila tidak dikembangkan akan hilang begitu saja. Namun Bu Anna tidak demikian, beliau berhasil menyalakan semangat pada seorang Andy F Noya sehingga sepenggal nasihatnya menjadi penyala dan berhasil menyalakan kemampuan anak didiknya.

Jika bukan seorang Andy F Noya, apakah kita akan ingat atas jasa sekian banyak guru yang sangat peduli terhadap anak didiknya? Bagaimana kita bisa memaknai setiap semangat yang selalu dikobarkan oleh guru kita? Saya terharu ketika Bang Andy memaparkan kisah inspiratifnya tentang Bu Ana yang begitu berarti dalam hidupnya karena saya belum mampu membahagiakan guru-guru yang membuat saya menjadi seperti sekarang sebaik yang dilakukan oleh Bang Andy (Boleh ya saya mengakrabkan diri memanggil demikian).

Tidak terasa pipi saya mulai menghangat, tidak terasa air mata mulai mengalir deras tak bisa lagi ditahan. Ketika melihat peserta lain juga tidak jauh berbeda, ya betul kisah Bang Andy memang sangat menginspirasi. Membuat saya bertanya kepada diri sendiri apa yang sudah saya berikan buat mereka yang pernah menjadi bagian dalam sejarah hidup yang membuat saya tumbuh dan berkembang?

Sebagai seorang pendidik akhirnya saya pun bertanya, mampukah saya menjadi penyala dalam dunia Pendidikan yang tanpa sengaja saya jalani karena memang latar belakang pendidikanku bukanlah dari sekolah keguruan atau fakuktas keguruan?

Semoga saya dimampukan untuk selalu “Tanam kebaikan selagi ada kesempatan.”

***

Pada sesi berikutnya kami diperkenalkan dengan Pak Bukik Setiawan. Nama yang tidak asing karena tulisan dan beberapa seminarnya pernah saya ikuti. Namun setiap pertemuan dengan beliau yang sangat anti mainstream lagi-lagi menyita perhatian saya untuk mengikuti paparannya yang selalu menarik.

Pemaparan tentang Merdeka Belajar, sangat memberi ruang untuk siapa pun Ketika memutuskan untuk belajar. Keputusan beliau melepas statusnya sebagai ASN sangat saya acungi jempol dan benar-benar salut dengan apa yang beliau lakukan. Ketika ribuan bahkan jutaan orang mengantri untuk mendapatkan status kepegawaiannya itu beliau justru melepasnya. Namun tentunya keputusan itu diambil dengan banyak pertimbangan termasuk risiko juga kebaikan yang diperoleh setelahnya.

Merdeka belajar, tak berarti belajar semaunya, sesuka hati, dan seenaknya. Merdeka belajar diartikan sebagai belajar yang tanpa batas waktu, tanpa paksaan karena mereka yang Merdeka Belajar sangat memahami bagaimana ia mengekplor kemampuan dan minat belajar yang bisa dikatakan diluar rata-rata kebanyakan orang. Ini yang saya katakan sebagai Anti Mainstream.

Sebagai pendidik tentu akan mengalami dilema ketika menghadapi anak didik yang beragam latar belakang baik sosial maupun ekonomi keluarga mereka. Pendidik yang berada di kota besar masalahnya akan berbeda dengan pendidik yang berada di pedesaan. Uniknya pada konsep Merdeka Belajar ini seperti pada sebuah catatan beliau menyatakan bahwa “Kesulitan Murid itu sumber ilmu bagi guru.” Langsung saya garis bawahi, karena hal itu sangat benar adanya dan bagaimana cara kita menyikapi hal tersebut seringkali mendapat perlakuan dari lingkungan kita sendiri sesuai dengan jurang yang harus dilalui oleh seorang Pendidik yang Merdeka Belajar.

Keberanian berbeda dan konsisten dengan semua yang kita lakukan sehingga membuat perubahan yang lebih baik meskipun sebelumnya diabaikan, ditertawakan, dikritisi, namun pada akhirnya mendapat penerimaan atas apa yang kita lakukan.

“Bermimpilah mendunia meskipun apa yang kita lakukan hanya untuk sebatas lingkungan sendiri.”

Di penghujung acara, Bapak Arifin Nurdin berkesempatan membacakan Surat Keputusan Penetapan Sosialisator Penggerak Literasi Nasional dan Penggerak Literasi Daerah 2021 sekaligus melantik yang siap melaksanakan tugas untuk menyalakan literasi di seluruh pelosok negeri. Ditetapkan tanggal 14 Juli 2021.

Demikian sepenggal kisah dari Seremoni Pelantikan SPL Nasional dan Penggerak Literasi Daerah 2021.

Selamat bekerja para penyala literasi, mari saling menguatkan dan menyalakan semangat.

Salam Literasi

Artikel Terkait