Merintis Sebagai Penyala - Penggerak Literasi

Merintis Sebagai Penyala

“Sinar surya hari ini begitu cerah, secerah semangatku.” Kulangkahkan kaki menuju harapan untuk murid impianku. Murid yang memiliki keinginan untuk terus belajar, belajar, dan belajar tak peduli akan tantangan yang dihadapi.

Teks diatas adalah secuil kisah selama menjadi penyala. Iya motivasi murid impian masa depan membuat saya memutuskan untuk bergabung menjadi Sosialisator Program Literasi Nasional (SPL Nasional) ini. Dan alhamdulilah Allah memberikan ridhoNya terbukti dari keempat kandidat SPL daerah Pasuruan akhirnya saya yang terpilih.

Saya memilih literasi sebagai jembatan mewujudkan visi murid impian masa depan karena literasi adalah kunci untuk mengembangkan ilmu pengetahuan lainnya. Karena apa yang dibaca, dilihat dan dirasakan murid harus bisa mereka eksplor dengan sempurna dengan ragam bahasa yang diinginkan. Membaca, menyimak, bertutur, menulis adalah wujud eksplorasi pengetahuan yang diperoleh. Tanpa itu, apa yang dipelajari tidak dapat diserap dengan baik.

Motivasi ini membuat saya terus melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah seusai jam pembelajarn selesai. Dengan sedikit waktu yang tersisa ini saya memiliki harapan sekolah yang saya sosialisasi dapat meningkatkan literasinya dengan bergabung dalam program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional (GSMB Nasional). Namun ternyata tak semudah itu membuka pemahaman mereka akan pentingnya menulis bagi guru dan murid.

Hal ini tak menyurutkan langkahku, saya terus membakar semangat ini tak boleh redup sedikitpun. “Dalam diam saya merenung, saya perlu membuat strategi” itu pikir saya. Sayapun memutuskan untuk meminta dukungan dari berbagai pihak. Dalam hal ini Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.

Hari Jumat dengan mengendarai sepeda saya memberanikan diri ke kantor Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Jarak yang lumayan jauh yakni dari Pasuruan ke Sidoarjo, berbekal aplikasi google saya mencari alamat Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Sesampainya di sana, alhamdulillah sambutan yang luar biasa ramahnya dari seluruh pegawainya. Bahkan saat itu kebetulan ada acara jadi disajikan banyak kudapan di sana, sayapun diminta bergabung mengikuti acara tersebut.

Kemudian saya perkenalkan diri, saya sampaikan maksud dan tujuan saya sebagi SPL Nyalanesia dan alhamdulillah ibu Umi Kulsum Kepala Balai Bahasa menyetujui dan mendukung program ini. Sayapun meminta beliau berkenan sebagai narasumber dari webinar literasi yang saya ajukan kepada pihak Nyalanesia.

Strategi berikutnya saya meminta dukungan dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan. Saya beranikan diri bertemu orang pertama yang berpengaruh akan pendidikan di daerah Pasuruan. Bertemu beliau agak sulit karena kesibukan beliau yang padat, perlu mengatur waktu jadwal yang tepat. Benar saja, saya harus mengantre giliran untuk bertemu bapak Kadis karena beliau masih ada kegiatan. Akhrinya saya diarahkan bertemu bapak Kabid. Setelah membaca surat pengajuan permohonan kerja sama dan proposal Nyalanesia bapak Kabid akan mempelajarinya terlebih dahulu. Saya pun pulang tanpa membawa hasil sesuai harapan. Saya menunggu keputusan dari bapak Kabid.

Dua hari berikutnya beliau mengatakan secara pribadi mendukung program GSMB namun dinas belum bersedia memberikan rekomendasi secara tertulis. Hal ini karena beberapa pertimbangan yakni pihak Dinas Pendidikan tidak ingin adanya paksaan sekolah dalam mengikutinya. Saya pikir ada benarnya juga, bagi saya yang terpenting sudah ada lampu hijau dari bapak Kabid dan beliau menyarankan untuk sosialisasi melalui MGMP, K3S atau MKKS. Sekarang tugas saya adalah bagaimana meyakinkan kepala sekolah untuk memahami apa itu GSMB.

Ini adalah tahun pertama saya sebagai SPL, ibarat kata ini adalah tahun-tahun sulit untuk merintis, membuka jalan karena sekolah belum tahu apa itu program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional. Semangat saya tetap berkobar untuk menggerakkan literasi di sekolah-sekolah walau apapun rintangannya.

Hari-hari kulalui dengan sosialisasi setelah pembelajaran selesai. Hari itu kulangkahkan kaki pada sekolah jenjang SMA dan sederajat karena sekolah SD dan SMP sudah tutup, maklumlah jam kerja guru SD/SMP jam dua sudah usai sedang untuk SMA/SMK hingga jam empat karena lima hari kerja.

Kakiku melangkah ke SMAN 1 Bangil atau sekarang berubah menjadi SMA Taruna Madani. Saya kaget, tercengang sekaligus bangga pada kemajuan literasinya. Buku-buku tertata rapi di  ruangan perpustakaan dan buku-buku itu adalah buah karya anak-anak sendiri. Aku merasa sangat bersyukur ternyata literasi muridnya maju dengan pesat.  Ada juga Aliyah Darut Taqwa di Purwosari ketika aku ke sana keadaan yang sama terjadi. Hampir di setiap bulannya murid-murid dapat menulis 6 hingga 7 buku cerpen. Sungguh luar biasa. Murid-murid antusias untuk menulis.

Untuk memasuki jenjang sekolah dasar dan menengah saya mengambil waktu di sela-sela jam pelajaran lain. Sosialisasi dari satu sekolah ke sekolah lain saya lakukan, panas, hujan tak kurasakan. Ada sekolah yang menolak namun ada pula yang tertarik. Tak apalah itu hal yang wajar.

Sosialisasi dari satu sekolah ke sekolah lain kurang efisien dan membutuhkan waktu yang lama. Sayapun memanfaatkan MGMP dan K3S. Saya meminta izin dan mengajukan surat permohonan kerja sama kepada ketua K3S dan MGMP. Alhamdulillah izin itu mudah saya dapatkan. Dari sosialisasi tersebut berjalan sesuai harapan.

Di antara penolakan ada pula  yang tertarik dengan program GSMB, namun lembaga terkendala dengan biaya dan jadwal kegiatan sekolah yang padat. Menurut saya biaya itu sepadan dengan fasilitas yang didapatkan. Nyalanesia memfasilitasi voucher 5 buku selama 5 bulan untuk sekolah dan 2 buku untuk guru koordinator. Ada pula fasilitas platform akademisi untuk berbagai pelatihan menulis. Ya sudahlah saya menghargai kendala mereka.

Untuk mengatasi masalah lembaga terkendala biaya pendaftaran GSMB tersebut saya pergi ke Dinas pendidikan lagi untuk membicarakan hal tersebut. Dan alhamdulillah pihak Dinas pendidikan mendukung bahkan memperbolehkan menggunakan dana BOS untuk sekolah mengikuti program GSMB. Ada beberapa sekolah yang bergabung dengan menggunakan dana BOS. Namun ada pula sekolah yang terkendala dengan alasan  rencana BOS sekolah yang sudah ditulis tidak dapat diubah begitu saja. Harus menunggu tribulan berikutnya. “Setidaknya saya sudah menemukan titik terang,“ pikirku.

Saya bahagia dari kegiatan sosialisasi ini saya mengenal banyak orang, menambah banyak teman dan saudara, berjumpa dengan orang-orang hebat saling sharing ilmu tentang literasi. Walau di tahun ini belum mendapat hasil yang optimal seperti ekspektasi saya. Mungkin di tahun depan akan ada perkembangan ke arah yang lebih baik lagi.

Semangat…semangat…semangat penyala

Nyalanesia nyalakan masa depan.

PROFIL PENULS­­

 Assalamualaikum wr.wb. Perkenalkan nama saya Elmiya Sari, S.Pd., guru kelas 1 (Satu) di UPT Satuan Pendidikan SDN Kecamatan Sukorejo-Kabupaten Pasuruan. Saya SPL Nasional Nyalanesia angkatan 4 Kabupaten Pasuruan. Saya juga seorang guru penggerak angkatan 4 Kabupaten Pasuruan. Saya bisa sampai seperti ini adalah berkat jasa orang tua dan guru-guru hebat di waktu itu. Guru sangat berperan untuk terwujudnya cita-cita murid.

Hobi saya belajar dan menulis dan “Mendidik dengan hati ikhlas dan menyenangkan” adalah moto saya.

Jika ingin bersahabat dengan saya bisa melalui medsos:

Whatshap           : 085731384291

Instagram           : nengmia531

Blog                       : https://penggerakkebaikancgp4.blogspot.com

Youtube               : Elmiya Sari /penggerakkebaikancgp4

Artikel Terkait