Terus MENYALA - Penggerak Literasi

Terus MENYALA

Saya, Soleh Sohih, mata pena dari Muhamad Soleh. Lahir 16 Juli di Kecamatan Tenjo Kabupaten Bogor. Tinggal di dearah yang saat ini sedang gencar perusahaan perumahaan mengubah lembah, kebun dan sawah menjadi tempat pemukiman yang entah orang mana yang akan mengisinya.  Orang manapun tentu penduduk asli harus siap menerima kenyataan ini dengan segala risikonya. Terlebih, perusahaan terkemuka Agung Podomoro Group tengah membangun perumahan terbesarnya ‘KOTA PODOMORO TENJO’. Selaku putra derah saya mengambil sikap bergerak di dunia literasi, agar daerah kelahiran melek dunia literasi sampai menjadi manusia yang modern, literat dan terbuka. Sadar bukan lulusan sekolah negeri, juga bukan dari fakultas ternama, saya harus giat mencari ruang literasi demi menambah pengetahuan dan pengalaman yang belum ada dalam diri. Dengan berbagai macam, giatnya saya ikuti kopdarnya saya temui. Yang diselenggarakan di berbagai kota dan daerah. Maret 2016 saya menggilai dunia literasi, dengan mengikuti berbagai kelas menulis via daring. Segala event diikuti. Sampai menjuarai beberapa karya tulis daerah maupun nasional.

Berangkat dari kelas menulis itulah virus literasi semakin memuncak, ditambah dengan masa remaja yang kata orang “cintanya bertepuk sebelah tangan”. Seorang gadis lahiran 1997 yang juga putri dari seorang kepala sekolah berhasil menumbangkan asmara saya. Beruntung tidak lama larut dalam asmara itu walau terus membekas, saya merefleksikan segala curahan hati kedalam bentuk tulisan. Tidak sadar, ternyata semua itu mejadi proses kreatif yang sungguh bernilai.  Bagi saya, “tiada waktu tanpa buku, bergelut dengan buku menimba ilmu tanpa ragu”. Didorong dengan satu keingian yang menurut orang biasa namun sakral bagi saya “ingin punya karya tunggal” akhirnya buku tunggal pertama lahir walau menurut saya sendiri terbilang prematur. Buku bertajuk ‘Pena Jalang Terbentur Karang’ berhasil terbit tahun 2016 di Surakarta, Kekata Publisher yang membidani segala sesuatunya.

Buku tersebut saya ikutsertakan dalam event ‘Anugerah Buku Puisi Indonesia 2016’ yang diselenggarakan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia dan INDOPOS. Saya pun menghadiri undangan penyelenggara pada acara puncak di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini-Jakarta.

Masih berkutat dengan dunia literasi, tahun 2017, Komunitas Seni dan Buadaya Jawa Barat (KOSA JABAR) menyelenggarakan event Jambore Susastra Jabar 2017, ajang cipta puisi dan pencarian 50 penyair Jabar. Beberapa karya puisi saya kirimkan untuk menjadi syarat mengikuti acara tersebut. Total mengikuti prosedur dengan berpegang pada syarat ketentuan, karya saya pun masuk sebagai nominasi 50 penyari terpilih Jawa Barat dalam event Jambore Susastra Jabar 2017.

Seperti penulis amatir pada umumnya, saya tidak berhenti untuk hanya menulis puisi, melebarkan sayap, mencoba menulis fabel. Seorang penulis aktif spesialis cerita anak yang tinggal di Padang, Sumatera Barat berkabar via group kelas menulis menyeleksi fabel Islami. Saya pun segera merenung, merangkai fabel yang mengambil unsur lokal, satu sungai di derah tempat tinggal  saya jadikan sebagai latar terjadinya peristiwa, lalu fabel tersebut saya sematkan tajuk ‘Si Krobo, Buaya Manja’ Satu judul fabel islami ini akhirnya lolos kurasi dan diterbitkan dalam antologi fabel Islami berjudul ‘25 Fabel Islami Pengantar Tidur, Mendidik dan Menghibur’ terbit di Elexmedia Komputindo (Gramedia Group) tahun 2018, dan masuk deretan buku anak bestseller.

Masih di tahun 2018, seorang dosen yang mengajar di salah satu Universitas di Banten mengajak saya untuk menerbitkan antologi puisi secara bersamaan dalam satu buku. Saya pun menyanggupinya demi menghargai ajakan tersebut. Tepat saat Hari Pendidikan Nasional 2018 buku kami pun terbit berjudul ‘Harapan di Atas Awan’ oleh Lovrinz Publishing-Cirebon dan mendapatkan apresiasi tertulis dalam bingkai piagam penghargaan dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor tahun 2018.

Masih di tahun 2018, satu judul puisi saya lolos kurasi dalam event ‘Gerakan 1000 Guru ASEAN Menulis Puisi 2018’. Puisi yang lolos itu diterbitkan dalam buku antologi bersama bertajuk ‘Sebuah Buku dan Rahasia Ilmu’ dan dilaunching pada saat acara puncak. Saya pun menghadiri undangan penyelenggara yang difokuskan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII)—Jakarta selama dua hari. Dihadiri oleh para penyarir ASEAN, Duta besar, budayawan dll.

Tahun 2019 akhir, buku tunggal kedua saya berjudul ‘Januari Datang Lagi’ terbit di Gemala—Keira Publisher-Depok. Buku yang berisi kumpulan puisi ini saya kemas dengan beda dan spesial. Bukan hanya menyentuh soal cinta, tapi saya selipkan perihal sosial-politik yang terjadi pada saat ini.

Seperti saya pada kebiasaanya yang tak mau tertinggal info penting, sebuah seleksi saya ikuti  sesuai prosedur yang ada. Bergelut secara sehat dengan 3000 lebih penggerak literasi Tanah Air dengan mengikuti beberapa tahapan seleksi yang cukup ketat. Sebuah proses panjang yang mungkin menurut orang melelahkan berbuah kabar baik. Saya masuk menjadi 88 Sosialisator Program Literasi Nasional 2021 (SPL Nasional 2021). Proses panjang yang penuh tantangan di akhir seleksi harus mengikuti proses penerjunan selama satu bulan dan mengajak instansi terkait untuk kolaborasi, mendukung program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional 2021 (GSMB-Nasional) hingga Festival Literasi Nasional 2022.

Ada hal yang mengejutkan saat seremoni pelantikan SPL Nasional, ternyata tim program dari Nyalanesia mengadirkan dua tokoh Inspiratif nasional yang sangat saya idolakan. Pelantikan yang digelar secara virtual serasa nyata. Saya tenggelam menyimak kisah inspiratif perjalanan panjang yang dilalui oleh Andy Noya hingga menjadi tuan rumah Kick Andy bertahun-tahun di salah satu stasiun televisi swasta. Ada yang tak kalah hebat! Seorang pemikir ‘MERDEKA BELAJAR’ yaitu Bukik Setiawan berhasil membuat betah kami SPL Nasional karena materi yang dipaparkan dikemas dengan keren, gembira dan asyik. Terimakasih Nyalanesia selalu memberikan kejutan yang tak terduka membuat kami makin bangga.

Semangat berkarya para penggerak literasi. Pertiwi menanti, mari dedikasikan diri untuk lebih berarti. Terus menyala! Salam santun! Salam literasi!

Bogor, 18 Juli 2021

Artikel Terkait